Cognitive Theory of Multimedia Learning
(Teori kognitif Multimedia Learning)


Cognitive theory of multimedia learning
Prinsip yang dikenal sebagai "prinsip multimedia" menyatakan bahwa "orang belajar lebih dalam dari kata-kata dan gambar daripada dari kata-kata saja" . Namun, menambahkan kata-kata ke gambar bukanlah cara yang efektif untuk mencapai pembelajaran multimedia. Tujuannya adalah untuk media pembelajaran dalam terang bagaimana pikiran manusia bekerja. Inilah dasar teori pembelajaran kognitif Mayer.
Terdapat tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran:
1.      Ada dua saluran terpisah (pendengaran dan visual) untuk memproses informasi (kadang-kadang disebut teori Dual-Coding);
2.      Setiap saluran memiliki kapasitas terbatas (terbatas) (mirip dengan gagasan Sweller tentang Beban Kognitif);
3.      Belajar adalah proses penyaringan, pemilihan, pengorganisasian, dan pengintegrasian informasi yang didasarkan pada pengetahuan sebelumnya.

Manusia hanya dapat memproses sejumlah informasi dalam satu saluran pada satu waktu, dan mereka memahami informasi yang masuk dengan secara aktif menciptakan representasi mental.
Mayer juga membahas peran tiga toko memori: sensorik (yang menerima rangsangan dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat), bekerja (di mana kita secara aktif memproses informasi untuk menciptakan konstruksi mental (atau 'skema'), dan jangka panjang (repositori Dari semua hal yang dipelajari).
Teori pembelajaran multimedia kognitif Mayer menyajikan gagasan bahwa otak tidak menafsirkan presentasi multimedia dari kata-kata, gambar, dan informasi pendengaran dengan cara yang saling eksklusif, namun elemen-elemen ini dipilih dan disusun secara dinamis untuk menghasilkan logika. Konstruksi mental Selanjutnya, Mayer menggarisbawahi pentingnya pembelajaran (berdasarkan pengujian konten dan menunjukkan keberhasilan transfer pengetahuan) ketika informasi baru terintegrasi dengan pengetahuan sebelumnya.
Prinsip-prinsip desain termasuk memberikan informasi verbal, bergambar yang koheren, membimbing peserta didik untuk memilih kata dan gambar yang relevan, dan mengurangi beban untuk saluran pemrosesan tunggal dan lain-lain dapat diakibatkan dari teori ini .Cognitive Load Theory merupakan suatu teori yang diperkenalkan sebagai teori pengajaran yang berdasar pada pengetahuan dari arsitektur kognitif manusia yang kita miliki. Prinsip utama Cognitive Load Theory adalah kualitas dari pembelajaran akan meningkat jika perhatian dikonsentrasikan pada peran dan keterbatasan memori kerja. 





TEORI DUAL CODING


Teori dual coding
Teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran matematika.
Theory dual coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari chenel verbal dan non verbal (najar,1995). bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua chenel pemprosesan informasi (verbal Dan non verbal ) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar. mengingat dari kedua ranah tersebut memiliki kelebihan masing-masing diantaranya :
1.           Verbal
Didalam ranah verbal hal yang menjadi penting adalah lisan, dimana lisan merupakan suatu sistem lambang yang memungkinkan seseorang berbagi makna, fungsinya yaitu untuk mempelajari sekeliling, membina dengan baik hubungan antar manusia, dan menciptakan ikatan antar manusia.\

2.             Non Verbal
Nilai positif dari nonverbal dalam pembelajaran adalah untuk meyakinnya peserta didik dengan apa yang diucapkan, menunjukkan ekspresi yang tidak bisa di katakan, melengkapi ucapan-ucapan yang belum sempurna, serta membuat suatu yang bersifat abstrak menjadi mudah untuk di mengerti.
Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) merupakan pencetus teori dual coding, yang menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.

Teori dual coding mengidentifikasi tiga cara pemrosesan informasi, yaitu:
a.       Pengaktifan langsung representasi verbal atau piktorial,
b.      Pengaktifan representasi verbal oleh piktorial atau sebaliknya
c.       Pengaktifan secara bersama-sama representasi verbal dan piktorial.

Teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge).

contoh dual coding

1.      Grafik dan Narasi
Contohnya dalam pembelajaran statistika, guru menyajikan digram yang di sertai kata-kata dan teks. Sehingga dari gambar ini siswa mampu menjelaskan denganmenggunakan kata-katanya sendiri isi dari diagram tersebut.

2.           Gambar dengan Narasi
Contohnya dalam pembelajaran aljabar guru memperlihatkan gambar bentuk aljabar dan secara bersamaan guru menjelaskan maksud dari gambar.

3.           Flash dengan Narasi
Contohnya pada pembelajaran bangun ruang, guru menampilkan berbagai bangun ruang dengan animasi pada media flash. Ketika flash ditampilkan guru juga memberikan penjelasan mengenai konsep bangun ruang.




Komentar

  1. Tujuannya adalah untuk media pembelajaran dalam terang bagaimana pikiran manusia bekerja. Inilah dasar teori pembelajaran kognitif Mayer.

    liya saya mau tanya nih.. yang di maksud dengan pembelajaran dalam terang ini bagaimana ???
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimaksih atas pertanyaanya nia,
      Maksud pembelajaran terang ialah jika orang belajar diiring dengan kata-kata dan disertai gambar, itu lebih baik daripada hanya kata-kata saja" . Jadi untuk pembelajaran, sebaiknya gunakan pembelajaran audio-visual.

      Hapus
  2. Saya guru bahasa inggris, bagaimana ya contoh dari teori dual coding dalam pembelajaran bahasa inggris?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimaksih atas pertanyaannya kak nia.
      Berdasarkan materi yang disampaikan bahwa teori dual coding ialah informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, dan channel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi.
      Contoh seperti teks diskriptif, jika kakak sudah menggunakan pembelajaran hanya berupa gambar dan siswa diminta untuk mendeskripsikan gambar tersebut, berarti kakak sudah menggunakan dual coding visual.
      Jika dalam pembelajaran listening dan kakak sudah menerapkan di kegiatan pembelajaran berarti kakak sudah menggunakan dual coding channel verbal.

      Hapus
  3. Liya berdasarkan yg saya baca, pembelajaran itu terintegrasi dengan pembelajaran sebelumnya. Sebagai guru, apa yang bisa kita lakukan untuk memancing pengetahuan lama yang ada pada siswa bisa keluar, sehingga membantu dalam pembelajaran materi baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya, cara yang paling baik ialah pada saat apersepsi pembelajaran bisa dilakukan pemberian pertanyaan-pertanyaan terkait konsep maupun aplikasi dalam kehidupan sehari hari sehingga mereka terpancing untuk mengingat pelajaran yang lalu dan menghubungkan dengan pembelajaran yang akan dipelajari sehingga proses kbm akan lebih mudah dan menyenangkan

      Hapus
  4. Teori dual coding mengidentifikasi tiga cara pemrosesan informasi, yaitu Pengaktifan langsung representasi verbal atau piktorial. Bisa liya jelaskan apa itu piktorial? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas pertanyaannya okta.
      Representasi piktorial adalah kata lain dari visual seperti gambar, diagram dan animasi.

      Representasi visual.
      1. Diagram, tabel, atau grafik .
      - Menyajikan kembali data atau informasi dari suatu
      representasi diagram, grafik, atau tabel.
      - Menggunakan representasi visual untuk menyelesaikan
      masalah.
      2. Gambar.
      - Membuat gambar pola-pola geometri.
      - Membuat gambar untuk memperjelas masalah dan
      memfasilitasi penyelesaiannya;

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Izin bertnya kk. Seperti yg kita tahu bahwa manusia mempunyai dual channel dalam menggali atau menerima informasi. Nah menurut kk bagaimana hubungan gaya belajar dengan dual channel ini? Apakah seorang yg memiliki gaya belajar visual hanya menggunakan satu channel dari dua channel yg dimilikinya? Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas pertanyaanya aulia. Kedua channel verbal dan visual dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991).
      Jadi, seseorang yang memiliki gaya belajar visual bisa menggunakan pembelajaran dengan menggunakan gambar, diagram atau animasi saja.
      Atau seseorang yang gaya belajar visual bisa dipadukan dengan gaya belajar verbal.

      Hapus
  7. multi media sangat tidak efektif utk pmbljarn d SMP apa lagi yang d daerah terpencil, apa sulisi utk multi media d daerh tersebut munurut anda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas pertanyaannya pak hako.
      Menurut saya, media pembelajaran sangat efektif untuk semua jenjang sekolah.
      Jika sekolah masih di daerah terpencil dan masih jauh dari fasilitas teknologi, guru bisa menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran ataupun bisa memberikan contoh di lingkungan sekitar.
      Dan multimediakan bisa berupa perpaduan teks, gambar, audio, video.
      Jadi guru bisa sesekali menampilkan video tentang pembelajaran yang akan dibahas ataupun gambar-gambar lingkungan yang berkaitan dengan materi.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  8. Apakah hal yang harus diperhatikan ketika media pembelajaran kita yang sudah disusun dengan baik, kreatif, dan memenuhi teori dual corong dan prinsip prinsip media pembelajaran, tetapi ketika kita alokasikan dalam proses pembelajaran justru siswa sulit dalam pemahaman konsep nya, karena mereka sudah terbiasa belajar dengan metodr ceramah. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas pertanyaannya sutrimo.
      Menurut kakak, guru harus bisa membagi waktu kapan menjelaskan menggunakan ICT dan kapan harus menjelaskan secara konvensional.
      Karena tidak semua siswa paham dengan materi yang diajarkan menggunakan media berbasis ICT.
      Lakukan secara bertahap antara penggunaan media ICT dengan penjelasan langsung.
      Serta guru harus selalu melakukan evaluasi dalam kegiatan pembelajaran dan pembuatan media.

      Hapus
    2. Terimakasih atas jawaban nya kak, nah saya setuju bahwa pembagian waktu guru yang harus baik kapan harus konvensional dan kapan harus menggunakan ict. Nah selanjutnya ketika siswa dituntut dalam kurikulum 2013 ialah siswa harus aktif dalam kbm, maka guru hanya sebagai fasilitator saja, bagaimana cara membagi dan memage waktu dan tahap-tahap pembelajaran dengan baik???

      Hapus
    3. Terimaksih atas pertanyaannya sutrimo.
      Kalau dikurikulum 2013 siswa memang harus aktif dalam belajar. Agar siswa aktif dan dapat memahami pembelajaran menggunaan ICT, siswa bisa berkolaborasi, berdiskusi antar teman sekelompok artinya siswa bisa mengajari teman yang masih kesulitan dalam pemahaman konsep.
      Karena daya tangkap siswa berbeda-beda. Maka dari itu jika teman sekelompok belum bisa mengajari atau menjelaskan materi kepada teman yang mengalami kesulitan disini lah peran guru sebagai fasilitator menjelaskan secara konvensional.

      Hapus
  9. Apa yang membedakan teori kognitif ini dengan teori belajar lainnya?

    BalasHapus
  10. Menurut lia, dalam membuat media pembelajaran perlukah kita memperhatikan teori afektif atau psikomotorik? Atau hanya teori kognitif saja?

    BalasHapus
  11. Menurut lia, dalam membuat media pembelajaran perlukah kita memperhatikan teori afektif atau psikomotorik? Atau hanya teori kognitif saja?

    BalasHapus
  12. apakah menurut lia dalam membuat media pembelajaran siswa kita libatkan apa tidak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya, membuat media pembelajaran hanya perlu dilakukan oleh guru. Siswa hanya sebagai acuan dalam membuat media tersebut

      Hapus
    2. Menurut saya dalam pembuatan media cukup guru yang membuat, atau bisa berdiskusi dengan teman sejawat agar media yang kita buat dapat dinilai menarik atau tidak dan sesuai dengan KD atau tidak.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  13. Didalam kurikulum k13 bukan lagi berpusat pada guru, tetapi proses siswa dalam belajar, dari k13 apakah ada kaitan hubungan langkah2 pembelajaran k13 seperti mengamati, menanya, mengomunikasikan, menalar dengan tipe belajar seorang siswa dalam membuat media ICT?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas pertanyaanny iqbal.
      Menurut saya, tentu ada hubungannya.
      Dalam kegiatan belajar mengajar dan pembuatan media, guru secara tidak langsung sudah menggunakan/menerapka saintifik.
      Nah, pembuatan media dengan gaya belajar harus dibuat dengan pendekatan saintifik agar pembelajaran lebih bermakna.

      Hapus
  14. apa saja langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam membuat media pembelajaran berdasarkan penggabungan chanel verbal dan non verbal

    BalasHapus
  15. bagaiamana cara mengoptimalkan dual koding siswa dengan media?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini